Blognya tiara

April 22, 2010

JURNAL AKUNTANSI

Filed under: ekonomi — tiara2702 @ 3:28 am

SUMBER : http://akuntansi.usu.ac.id/jurnal-akuntansi-50.html

ANALISIS PERENCANAAN DAN PENGAWASAN PERSEDIAAN BARANG DAGANGAN DENGAN METODE ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ) PADA PT. FASTFOOD INDONESIA CABANG MEDAN

SYAPARUDDIN HARAHAP

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

NALENI INDRA

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

The objective of this research is to have a depiction on planning, purchasing, receiving and controling process policy of merchandise and to study how to determine the number of merchandise at PT. FastFood Indonesia branch of Medan.

In the writing of  Thesis, the writer do any direct interview to staff and employee of company and to collect the reguired data and data analysing by interpretation and analysis of the collected data.

Based on the results of research, it is indicated that PT. FastFood Indonesia branch of Medan did not apply Economic Order Quantity (EOQ) method in planning of temporary merchandise inventory by the method that can minimize the inventory cost.

Keywords :  Planning, Controling, Inventory Management, Economic Order

Quantity (EOQ)

  1. Pendahuluan

Setiap bentuk perusahaan mempunyai tujuan yang harus dicapai oleh semua pihak yang ada di dalam perusahaan. Proses penetapan tujuan membutuhkan kemampuan manajemen dalam mengelola perusahaan.  Pada perusahaan dagang dan industri, persediaan merupakan aktiva lancar yang relatif besar di neraca dan sebagian aktivitas utama perusahaan berhubungan dengan persediaan.

Pemesanan untuk persediaan barang dagangan yang terlalu besar hanya merupakan pemborosan dalam bentuk biaya dana yang tertanam dalam persediaan. Disamping adanya kemungkinan resiko kerusakan juga mengakibatkan bertambahnya biaya penyimpanan, biaya pemeliharaan digudang, turunnya kualitas barang dan keusangan. Sebaliknya, pemesanan yang relatif kecil dapat menimbulkan kerugian dalam bentuk tidak terpenuhinya kebutuhan pelanggan, sehingga pelanggan tidak akan percaya pada perusahaan. Keadaan ini dapat menyebabkan pelanggan akan beralih ke perusahaan lain yang melakukan kegiatan sejenis. Agar perencanaan yang dibuat dapat berjalan secara efektif dan efisien perlu dilakukan pengawasan. Pengawasan dapat dilakukan secara fisik dengan menjaga barang tidak rusak atau dicuri,  pengawasan dapat juga dilakukan melalui pengawasan akuntansi dengan melihat adanya pemisahan fungsi antara bagian pemesanan, bagian penerimaan, bagian penyimpanan, bagian pengiriman, dan bagian pencatatan. Selain itu, pengawasan juga perlu untuk menjaga agar persediaan berada pada tingkat persediaan sesuai dengan kebutuhan agar kelancaran operasi perusahaan tidak terganggu.

Metode Economic Order Quantity (EOQ) bertujuan untuk menentukan seberapa besar persediaan barang dagangan yang akan dipesan dan kapan waktu pemesanan akan dilakukan sehingga dapat mengoptimalkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan persediaan.  Bila persediaan menumpuk terlalu banyak ini berpengaruh pada kualitas barang dan bila persediaan terlalu sedikit inipun akan berpengaruh pada tingkat penjualan. Persediaan juga memberikan kontribusi yang besar terhadap pendapatan karena pengefisienan biaya persediaan dapat mengurangi biaya.

  1. Telaah Literatur

2. 1  Pengertian Persediaan

Pengertian menurut PSAK (IAI 2007:14.1) mendefinisikan persediaan sebagai berikut :

persediaan adalah aset :

  1. tersedia untuk dijual dalam kegiatan normal,
  2. dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan dan,
  3. dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplier) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.

Sedangkan menurut Skousen, Stice (2004:659)

Kata persediaan (atau barang persediaan) secara umum ditujukan untuk barang-barang yang dimiliki oleh perusahaan, baik berupa bahasa usaha grosir maupun ritel, ketika barang-barang tersebut telah dibeli dan ada pada saat kondisi untuk dijual. Kata bahan baku (raw material), barang dalam proses (work in process), dan barang jadi (finished goods), untuk dijual ditujukan untuk persediaan di perusahaan manufaktur.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa persediaan merupakan suatu aktiva yang meliputi barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu kegiatan normal perusahaan atau bahan-bahan yang masih dalam proses produksi untuk diolah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi atau barang yang masih harus diterima perusahaan dan semua bahan dan perlengkapan yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa. Ilmu akuntansi memberikan pengertian yang amat luas mengenai persediaan yaitu segala sesuatu yang dapat dikategorikan sebagai persediaan jika memenuhi kriteria sebagaimana yang disebut diatas. Sifat barang yang diklasifikasikan sebagai persediaan sangat bervariasi sesuai dengan aktivitas perusahaan dan dalam beberapa hal yang meliputi aktiva yang biasanya tidak dianggap sebagai persediaan.

2.2 Perencanaan Persediaan

Perencanaan persediaan ini akan disajikan dalam sebuah anggaran. Ahyari mengemukakan dalam bukunya efisiensi persediaan bahan (1999:35) tujuan dari anggaran bahan baku ini adalah :

  1. memperkirakan jumlah bahan baku,
  2. memperkirakan jumlah pembelian bahan baku yang diperlukan,
  3. sebagai dasar untuk memperkirakan kebutuhan dana yang diperlukan untuk membeli bahan baku,
  4. sebagai dasar penyusunan product costing yakni memperkirakan komponen harga pokok pabrik karena penggunaan bahan baku dalam proses produksi,
  5. sebagai dasar melaksanakan fungsi pengawasan bahan baku.

Dari definisi diatas perencanaan persediaan harus mampu memecahkan masalah terhadap keperluan persediaan. Perencanaan persediaan mempunyai tujuan pokok agar persediaan tersedia dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan proses produksi atau permintaan langganan dan dengan biaya terendah.

2.3 Pengawasan Persediaan

Menurut Supriyono (2000:257) pengertian dari pengawasan persediaan bahan adalah :

Sebagai suatu fungsi terkoordinasi dalam organisasi yang terus menerus disempurnakan untuk meletakkan pertanggungjawaban atas pengelolaan bahan baku dan persediaan pada umumnya, serta menyelenggarakan suatu pengendalian internal yang menjamin adanya dokumen dasar pembukuan yang mendukung sahnya suatu transaksi yang berhubungan dengan bahan baku.

Ahyari (1999:56) menambahkan cara melakukan pengawasan fisik terhadap persediaan barang adalah :

  1. setelah bahan baku diterima, pada umumnya segera dimasukkan kedalam gudang fasilitas penyimpanan bahan baku
  2. penulisan identitas yang jelas bagi masing-masing gudang dan isinya untuk mencegah terjadinya kekeliruan atau pencampuran bahan baku
  3. pembungkusan/pengepakan yang cukup baik agar tidak terjadi kerusakan selama masa tunggu
  4. pengadaan bahan untuk mencegah terjadinya penungguan yang tidak merata
  5. untuk bahan baku yang punya batas waktu penggunaan, maka batas waktu tersebut harus ditulis agar bahan tidak kadaluarsa
  6. mengadakan pemeriksaan gudang atau perhitungan fisik (stock opname) secara berkala, misal sebulan sekali atau akhir periode.

Dari pengertian pengawasan persediaan diatas, dapat dilihat bahwa pengawasan persediaan bahan tidak hanya meliputi pengawasan terhadap fisik bahan tersebut saja, tetapi juga meliputi pengawasan akuntansi yakni menyangkut semua prosedur, dokumen, dan catatan pengawasan bahan baku serta dapat dipercayanya catatan keuangan yang mendukung kebenaran nilai transaksi tersebut.

2.4 Kuantitas Pemesanan Ekonomis (EOQ)

Menghindari kekurangan dan kelebihan persediaan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan produksi. Beberapa hal yang dianggap penting menurut Ahyari dalam bukunya efisiensi persediaan bahan (1999:48) yaitu : “waktu rata-rata yang diperlukan untuk memesan, pemakaian rata-rata dalam waktu rata-rata, biaya untuk menyimpan apabila ada persediaan yang berlebih, dan kerugian yang mungkin bila persediaan berkurang.”

Economic Order Quantity (EOQ) merupakan salah satu model manajemen persediaan, model EOQ digunakan untuk menentukan kuantitas pesanan persediaan yang dapat meminimalkan biaya penyimpanan dan biaya pemesanan persediaan. Economic Order Quantity (EOQ) adalah jumlah kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya yang minimal, atau sering dikatakan sebagai jumlah pembelian yang optimal.

Dalam kegiatan normal Model Economic Order Quantity memiliki beberapa karakteristik antara lain :

  1. jumlah barang yang dipesan pada setiap pemesanan selalu konstan,
  2. permintaan konsumen, biaya pemesanan, biaya transportasi dan waktu antara pemesanan barang sampai barang tersebut dikirim dapat diketahui secara pasti, dan bersifat konstan,
  3. harga per unit barang adalah konstan dan tidak mempengaruhi jumlah barang yang akan dipesan nantinya, dengan asumsi ini maka harga beli menjadi tidak relevan untuk menghitung EOQ, karena ditakutkan pada nantinya harga barang akan ikut dipertimbangkan dalam pemesanan barang,
  4. pada saat pemesanan barang, tidak terjadi kehabisan barang atau back order yang menyebabkan perhitungan menjadi tidak tepat.  Oleh karena itu, manajemen harus menjaga jumlah pemesanan agar tidak terjadi kehabisan barang,
  5. pada saat penentuan jumlah pemesanan barang kita tidak boleh mempertimbangkan biaya kualitas barang,
  6. biaya penyimpanan per unit pertahun konstan.

Besarnya EOQ dapat ditentukan dengan berbagai cara, menurut Hansen dan Mowen (2005:472) Economic Order Quantity akan menentukan jumlah pesanan persediaan yang meminimumkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan.

Rumus  EOQ :

EOQ  =

Atau  ;

EOQ  =

TC     =          D x C +  x S +  x H

TC     =          Total biaya pemesanan dan biaya penyimpanan

D       =          Jumlah (dalam unit) yang dibutuhkan selama satu periode tertentu,

misalnya satu tahun.

S        =          Biaya pesanan setiap kali pesan.

C       =          Harga pembelian per unit yang dibayar.

I         =          Biaya penyimpanan dan pemeliharaan digudang dinyatakan dalam

persentase dari nilai rata-rata dalam rupiah dari persediaan.

H       =          Biaya Penyimpanan per unit barang per tahun (Rp/unit/tahun)

=          Jumlah (berapa kali) pesanan periode waktu (jumlah/pesanan/tahun)

=          Persediaan rata-rata

Dengan adanya hal diatas, maka persediaan pengaman merupakan suatu sarana pencegah terjadinya kekurangan persediaan. Persediaan pengaman yang paling optimal adalah jumlah yang menghasilkan biaya paling rendah dalam suatu periode.

2. 5  Titik Pemesanan Ulang (Reorder Point/ROP)

Reorder Point ialah saat atau titik dimana harus diadakan pesanan lagi sedemikian rupa sehingga kedatangan atau penerimaan barang yang dipesan itu tepat pada waktu dimana persediaan diatas safety stock sama dengan nol. Dalam penentuan/penetapan Reorder Point haruslah kita memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :

  1. penggunaan barang selama tenggang waktu mendapatkan barang (procurement lead time),
  2. besarnya safety stock.

Reorder Point dapat ditetapkan dengan berbagai cara, antara lain dengan :

1)      menetapkan jumlah penggunaan selama lead time dan ditambah dengan persentase tertentu. Misalnya ditetapkan bahwa safety stock sebesar 50% dari penggunaan selama lead time dan dtetapkan bahwa lead timenya adalah 6 hari, sedangkan kebutuhan barang setiap harinya adalah 3 unit/hari.

ROP =    (6 x 3) + 50% (6 x 3)

=    18 +  9

=    27 unit,

2)      dengan menetapkan penggunaan selama lead time dan ditambah dengan penggunaan selama periode tertentu sebagai safety stock, misalkan kebutuhan selama 4 hari.

ROP          =    (6 x 3)  +  (4 x 3)

=    18  +  12

=    30 unit

Dari contoh yang terakhir ini dapatlah dikatakan bahwa “reorder point”-nya adalah pada jumlah 30 unit, ini berarti bahwa pesanan harus dilakukan pada waktu jumlah persediaan tinggal 30 unit.

2. 6  Kerangka Konseptual

PT. FASTFOOD INDONESIA CABANG MEDAN

  • Persediaan Pengaman
  • Penggunaan Persediaan Perhari
  • Waktu tunggu
    • Anggaran Persediaan
    • Biaya Penyimpanan
    • Biaya Pemesanan

Sumber Penulis, 2009              Gambar . 2. 2

Kerangka Konseptual

Perusahaan ini merupakan perusahan dagang yang memiliki perencanaan dan pengawasan dalam mengelola persediaan. Namun dalam penentuan jumlah pesanan penulis menggunakan Metode Economic Order Quantity untuk mengetahui biaya penyimpanan dan biaya pemesanan yang paling ekonomis. Dalam pemesanan kembali (Reorder Point) untuk memperoleh persediaan pengaman yang optimal, penggunaan persediaan perhari dan waktu tunggu yang efektif dan efisien.

  1. 3. Metode Penelitian

Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis terdiri dari dokumentasi, wawancara dan kepustakaan.

  1. Dokumentasi, teknik pengumpulan data dengan melakukan pendataan langsung terhadap dokumen-dokumen yang ada pada PT. FastFood Indonesia Cabang Medan seperti bukti biaya pemesanan, bukti biaya penyimpanan barang dan lain sebagainya,
  2. Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data yang menggunakan pertanyaan secara lisan dan diskusi langsung kepada pihak perusahaan. Seperti : Bagian Logistik, Bagian Akuntansi, dan Bagian Keuangan.
  3. Kepustakaan, penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan data-data dengan membaca dan mempelajari dari buku-buku dan teori yang berkaitan dengan judul.

Untuk menganalisis data yang diperoleh, maka penulis menggunakan metode deskriptif yaitu suatu metode yang dilakukan dimana data yang telah diperoleh dari hasil penelitian dikumpulkan, disusun, di interpretasikan dan dianalisis sehingga memberikan keterangan yang lengkap bagi pemecahan masalah yang dihadapi, hasilnya kemudian dibandingkan dengan kebijakan  yang diterapkan perusahaan, jika perusahaan menggunakan Metode Economic Order Quantity terhadap Perencanaan dan Pengawasan Persediaan untuk diambil kesimpulan dan saran.

  1. 4. Hasil Analisis

4.1 Penentuan Pemesanan Persediaan Barang Dagangan dengan Metode  Economic Order Quantity (EOQ)

Pada bagian ini akan dibahas mengenai perhitungan persediaan barang dagangan dengan Metode Economic Order Quantity (EOQ) yang dapat meminimalkan biaya persediaan nantinya untuk barang Pepsi Cola.

  1. Penentuan Pemesanan Persediaan Barang dagangan dengan Metode EOQ terhadap Pepsi Cola.

Perhitungan Kuantitas Pesanan Ekonomis (EOQ) Pepsi Cola adalah ;

Jumlah penggunaan Pepsi Cola selama 1 tahun                   =    1100 BIB

BIB adalah Bag In the Box  (1 BIB  =  23,55 kg)

Biaya pemesanan setiap kali pesan                                     =   Rp.   4.625,-

Harga pembelian per unit yang dibayar                   =   Rp. 70.650,-

Biaya penyimpanan setiap tahunnya (70.650 x 25%)          =   Rp. 17.662,5,-

Diketahui ;

D         =          1100 BIB

S          =          Rp.   4.625,-

C         =          Rp. 70.650,-

H         =          Rp. 17.662,5,-  (70.650 x 25%)

Jawaban ;         EOQ    =

EOQ    =

=                        =            BIB

Pemesanan Pepsi Cola dalam 1 tahun :      =        45,8     =        kali

Total biaya pemesanan dan biaya penyimpanan Pepsi Cola yang paling ekonomis yang dibutuhkan dalam 1 tahun adalah :

TC     =          D x C +  x S +  x H

TC24 =          (1100 x 70.650)  +   x 4.625  +   x 17.662,5

=          Rp. 77.715.000  +  Rp. 211.979  +  Rp. 211.950

=          Rp.

Ini berarti, cara pemesanan yang paling ekonomis ialah pemesanan Pepsi Cola sebanyak 24 BIB setiap kali pesan, yang ini berarti bahwa kebutuhan akan Pepsi Cola sebanyak 1100 BIB selama 1 tahun akan dipenuhi dengan 46 kali pesanan dengan jumlah pesanan 24 BIB. Pada jumlah pesanan inilah tercapainya biaya pemesanan dan biaya penyimpanan yang minimal.

Dari hasil perhitungan diatas penulis akan mencoba menganalisa hasil perhitungannya, apakah total biaya persediaan tersebut merupakan biaya yang paling rendah, apabila setiap kali pesan jumlah persediaan Pepsi Cola yang dipesan di bawah atau diatas EOQ (24 BIB).

Jika, Perhitungan TC pada pemesanan Pepsi Cola =  20 BIB

TC20 =          (1100 x 70.650)  +   x 4.625  +   x 17.662,5

=          Rp. 77.715.000  +  Rp. 254.375  +  Rp. 176.625

=          Rp.

Jika, Perhitungan TC pada pemesanan Pepsi Cola =  27 BIB

TC27 =          (1100 x 70.650)  +   x 4.625  +   x 17.662,5

=          Rp. 77.715.000  +  Rp. 188.426  +  Rp. 238.444

=          Rp.

Dari data diatas, terlihat bahwa perhitungan pesanan persediaan barang dengan menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ) akan meminimalkan pengeluaran biaya penyimpanan dan biaya pemesanan. Total biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan barang juga dapat digunakan seefisien mungkin dan menghindarkan terjadinya persediaan yang menumpuk dan mengantisipasi kekurangan persediaan. Dari contoh Pepsi Cola diatas, total biaya pada pesanan 20 BIB Rp. 78.146.000,- lebih rendah Rp. 7.071,- (Rp. 78.146.000  –  Rp. 78.138.929) dari total biaya pada pesanan 27 BIB  Rp. 78.141.870,-  juga lebih rendah Rp. 2.941,-  (Rp. 78.141.870  –  Rp. 78.138.929). Artinya bahwa  jumlah pesanan sebanyak 24 BIB dan dengan 46 kali pesanan dalam 1 tahun dengan total biaya pemesanan dan biaya penyimpanan persediaan sebesar Rp. 78.138.929,-  akan meminimalkan biaya – biaya persediaan, dimana barang yang dipesan sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan.

4.2 Penentuan Titik Pemesanan Ulang (Reorder Point) Persediaan Barang Dagangan

Dilihat dari contoh masalah pada PT. FastFood Indonesia cabang Medan, diketahui juga bahwa permintaan persediaan Pepsi Cola setiap penggunaannya di asumsikan 3 BIB dan waktu tunggunya adalah 5 hari, maka titik pemesanan ulangnya dapat ditentukan yaitu :

d          =  3 BIB

L          =  5 hari

Reorder Point dapat ditetapkan dengan berbagai cara, antara lain dengan :

  1. menetapkan jumlah penggunaan selama lead time dan ditambah dengan persentase tertentu. Misalnya ditetapkan bahwa safety stock sebesar 60% dari penggunaan selama lead time dan dtetapkan bahwa lead timenya adalah 5 hari, sedangkan kebutuhan barang setiap harinya adalah 3 BIB/hari.

ROP          =    (5 x 3) + 60% (5 x 3)

=    15 +  9

=    24 BIB

  1. dengan menetapkan penggunaan selama lead time dan ditambah dengan penggunaan selama periode tertentu sebagai safety stock, misalkan kebutuhan selama 4 hari,

ROP          =    (5 x 3)  +  (4 x 3)

=    15  +  12

=    27 BIB

Dari contoh yang terakhir ini dapatlah dikatakan bahwa “reorder point”-nya adalah pada jumlah 27 BIB, ini berarti bahwa pesanan harus dilakukan pada waktu jumlah persediaan tinggal 27 BIB. Untuk titik pemesanan ulang atau Reorder Point seperti pembahasan diatas yaitu pada saat Pepsi Cola tinggal 27 BIB artinya adalah pesanan persediaan barang akan dilakukan kembali ketika tingkat persediaan Pepsi Cola tersisa 27 BIB.

Apabila ditinjau kembali untuk proses perencanaan dan pengawasan persediaan barang dagang yang diterapkan oleh PT. FastFood Indonesia cabang Medan yaitu penentuan jumlah pesanan persediaan barang dagangan didasarkan oleh apabila persediaan barang akan habis atau berdasarkan kebutuhan pada waktu sebelumnya tanpa mempertimbangkan secara khusus jumlah biaya – biaya persediaan yang akan terjadi untuk mendapatkan persediaan barang dagangan yang dapat memenuhi permintaan konsumen. Hal ini akan menimbulkan masalah dalam operasional perusahaan, karena fluktuasi permintaan dan harga barang tidak selalu sama dari waktu kewaktu.

  1. Kesimpulan dan Saran

5.1   Kesimpulan

Berdasarkan penyajian dan hasil penelitian yang disampaikan oleh penulis pada bab sebelumnya, maka pada bab ini penulis akan memcoba menarik kesimpulan dan memberikan saran-saran sebagai masukan agar tujuan perusahaan dapat tercapai.

  1. Dilihat dari total biaya pada pemesanan persediaan Pepsi Cola untuk tahun 2008 sebesar Rp. 78.146.000,- dengan 20 BIB setiap kali pesan dan frekwensi pemesanannya sebanyak 55 kali dalam setahun, sedangkan pada perhitungan Metode Economic Order Quantity (EOQ) jumlah pemesanan Ekonomis Persediaan Pepsi Cola sebanyak 24 BIB setiap kali pesan dan frekwensi pemesanannya sebanyak 46 kali dalam setahun dengan total biaya pemesanan sebesar Rp. 78.138.929,-  dapat menghemat biaya sebesar Rp. 7.071,-. Hal ini menunjukkan bahwa teknik perencanaan persediaan yang diterapkan perusahaan kurang efektif dan kurang efisien dalam meminimalkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan dan upaya mengurangi resiko penumpukan atau kekurangan persediaan,
  2. PT. FastFood Indonesia cabang Medan sering tidak memperhitungkan batas persediaan minimum. Hal ini akan mengakibatkan resiko fatal akibat kehilangan penjualan apabila tidak dievaluasi,
  3. Dalam hal pengadaan persediaan biaya-biaya yang diperhitungkan oleh perusahaan adalah biaya pemesanan (ordering cost) dan biaya penyimpanan (carrying cost).

Saran

Dari kesimpulan – kesimpulan yang dikemukakan diatas, maka penulis memberikan beberapa saran yang mungkin akan berguna bagi perusahaan.

  1. Menurut penulis ada baiknya perusahaan menggunakan Metode Economic Order Quantity (EOQ) ataupun metode persediaan lain untuk melaksanakan perencanaan persediaannya. Sistem tradisional sudah dapat ditinggalkan. Apabila sistem tradisional ini terus – menerus digunakan, biaya persediaan akan semakin besar sehingga efisiensi biaya perusahaan tidak dapat tercapai,

REFERENCES

Ahyari, Agus, 1999. Efisiensi Persediaan Bahan, Edisi Kedua, Cetakan Kelima, Penerbit Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hal 35, 56 dan 48.

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, Jurusan Akuntansi 2004. Buku Petunjuk Teknis Penulisan Proposal Penelitian dan Penulisan Skripsi, Medan.

Garrison, Ray., Noreen, Eric., 2000. Akuntansi Manajerial, Edisi Pertama, Jilid Dua, Buku Satu, Penerjemah Totok Budisantoso, Penerbit Salemba Empat, Jakarta, hal 3.

Hansen, Don R,. Mowen, Maryjanne M., 2005. Akuntansi Manajemen, Edisi Ketujuh, Cetakan Pertama, Buku 2, Penerjemah Dewi Fitriasari dan Deny Arnos Kwary, Penerbit Salemba Empat, Jakarta, hal 472.

Ikatan Akuntan Indonesia., 2007. Standar Akuntansi Keuangan, Per September  2007, Penerbit Salemba Empat, Jakarta, hal 14.1.

Niswonger, C. Rollin E,Fees, Carl S Warren, 2000. Prinsip-Prinsip Akuntansi, Edisi Kesembilanbelas, Cetakan Pertama, Jilid Satu, Penerjemah Alfonsus Sirait dan Helda Gunawan,   Penerbit Erlangga, Jakarta, hal 359.

Rangkuty, Freddy, 2004. Manajemen Persediaan, Edisi Dua, Cetakan Keenam, Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal 9.

Riyanto, Bambang, 2001. Dasar – Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Keempat, Cetakan  Ketujuh, Penerbit Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hal 78.

Smith, Jay M., Skousen, K. Fred., 2001. Intermediate Accounting, Edisi Kesembilanbelas, Cetakan Keempat, Jilid 1, Buku Satu, Penerjemah Alfonsus Sirait, Penerbit Erlangga, Jakarta, 326.

Supriyono, A. R, 2000. Perencanaan dan Pengendalian Biaya serta Pembuatan Keputusan, Edisi Kedua, Cetakan Keempat, Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hal 257.

Usry, Milton F., Lawrence, H. Hammer., 2004. Akuntansi Biaya Perencanaan  Dan Pengendalian, Edisi Kesepuluh, Cetakan Kelima, Jilid Satu, Penerjemah Alfonsus Sirait dan Herman Wibowo, Penerbit Erlangga, Jakarta, hal 25.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: